
Banjir dan Longsor Sumatera Renggut 1.135 Nyawa
Banjir dan Longsor Sumatera Renggut 1.135 Nyawa
Indonesia – Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera kembali menorehkan duka mendalam. Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan jumlah korban meninggal dunia terus bertambah. Hingga Kamis, 25 Desember 2025, total korban jiwa tercatat mencapai 1.135 orang, meningkat dibandingkan laporan sebelumnya.
Banjir dan Longsor Sumatera Renggut 1.135 Nyawa – Angka ini menjadi pengingat betapa besar dampak bencana hidrometeorologi yang terjadi secara beruntun di berbagai daerah. Curah hujan tinggi, kondisi tanah labil, serta keterbatasan akses di beberapa wilayah memperparah situasi di lapangan.
BACA : BPK Buka Suara Nemu PLN Rugikan Negara Capai 8.5 Triliun
Penambahan Korban Jiwa dan Data Terbaru BNPB
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengonfirmasi adanya penambahan korban meninggal dunia. Dalam keterangan resmi yang disampaikan secara daring, ia menyebut terdapat tambahan enam korban jiwa dibandingkan data sehari sebelumnya.
Menurut Abdul Muhari, total korban yang sebelumnya tercatat 1.129 jiwa kini bertambah menjadi 1.135 jiwa. Penambahan ini berasal dari beberapa wilayah terdampak banjir dan longsor, terutama daerah yang akses evakuasinya cukup sulit. Kondisi geografis dan cuaca yang belum sepenuhnya membaik menjadi tantangan utama bagi tim di lapangan.
Operasi Pencarian Masih Terus Berlangsung
Meski jumlah korban meninggal meningkat, kabar sedikit lebih baik datang dari proses pencarian orang hilang. Abdul Muhari, yang akrab disapa Aam, menjelaskan bahwa daftar pencarian orang kini mulai berkurang. Hal ini seiring dengan ditemukannya sejumlah korban dan keberhasilan evakuasi di beberapa titik.
Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Republik Indonesia, serta relawan terus menyisir lokasi-lokasi terdampak. Fokus pencarian dilakukan di kabupaten dan kota yang masih memiliki laporan warga hilang, dengan mengutamakan area rawan longsor dan aliran sungai.
Ratusan Ribu Warga Masih Mengungsi
Selain korban jiwa, bencana ini juga berdampak besar pada kehidupan masyarakat. BNPB mencatat jumlah pengungsi saat ini mencapai 489.864 jiwa. Mereka tersebar di berbagai titik pengungsian, mulai dari gedung sekolah, balai desa, hingga tenda darurat yang disiapkan pemerintah daerah dan relawan.
Kondisi pengungsi menjadi perhatian tersendiri, terutama terkait kebutuhan dasar seperti pangan, air bersih, layanan kesehatan, dan perlindungan kelompok rentan. Distribusi bantuan masih terus dilakukan, meski di beberapa wilayah sempat terkendala akses jalan dan cuaca.
Akses Transportasi Mulai Berangsur Pulih
Di tengah situasi darurat, ada perkembangan positif terkait akses transportasi. BNPB melaporkan sejumlah jalur yang sebelumnya terputus kini mulai bisa dilalui. Jalur alternatif dari Bener Meriah menuju Bireuen sudah dapat dilewati kendaraan roda empat.
Selain itu, ruas Jalan Nasional Takengon–Bireuen juga mulai dibuka kembali. Pembukaan jalur ini dinilai penting karena akan memperlancar distribusi logistik, terutama pasokan energi dan bantuan dari Bandara Rembele di Bener Meriah menuju Takengon. Kelancaran distribusi diharapkan dapat mempercepat pemulihan di wilayah terdampak.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski beberapa akses mulai normal, tantangan penanganan bencana di Sumatera masih cukup besar. Kondisi cuaca yang belum stabil serta potensi bencana susulan membuat seluruh pihak diminta tetap waspada. Pemerintah pusat dan daerah terus berkoordinasi untuk memastikan proses evakuasi, pencarian, dan penyaluran bantuan berjalan optimal.
Peningkatan jumlah korban jiwa menjadi catatan serius bagi semua pihak. Selain penanganan darurat, upaya mitigasi dan kesiapsiagaan ke depan dinilai krusial agar dampak bencana serupa dapat ditekan. Tragedi ini bukan hanya soal angka, tetapi tentang ribuan keluarga yang terdampak dan membutuhkan perhatian berkelanjutan.